Pernah nggak sih kalian lagi asyik melamun atau merenung, terus tiba-tiba "dialog batin" di kepala kalian berubah jadi bahasa Inggris? Dan anehnya, saat berpikir pakai bahasa asing itu, kalian merasa jadi sosok yang lebih tenang, logis, dan nggak terlalu emosional dibandingkan kalau pakai bahasa ibu?
Apa itu Foreign-Language Effect?
Berdasarkan jurnal yang dilakukan Keysar et al. (2012), menyebut fenomena tersebut sebagai Foreign-Language Effect yang secara nyata mampu mengurangi bias dalam pengambilan keputusan. Penulis menjelaskan hipotesis increased-systematicity, di mana bahasa asing memberikan "mekanisme jarak" yang mengalihkan kita dari sistem intuisi instan menuju mode berpikir yang lebih deliberatif atau terencana. Hal ini terjadi karena kita bereaksi kurang emosional terhadap kata-kata dalam bahasa asing, sehingga memungkinkan otak untuk lebih mengandalkan proses analitis.
Eksperimen yang dipaparkan dalam jurnal ini menunjukkan bukti kuat: penulis menemukan bahwa bias framing (di mana pilihan berubah hanya karena cara penyampaiannya) seketika menghilang saat peserta menggunakan bahasa kedua mereka. Penulis juga menemukan bahwa dalam pengambilan risiko, penggunaan bahasa asing secara signifikan mengurangi rasa takut berlebih akan kerugian (loss aversion), sehingga orang lebih berani mengambil peluang yang menguntungkan secara logika.
The Trolley Dilemma
Pada dilema moral yang lebih berat, orang cenderung lebih “utilitarian” (mengorbankan satu demi menyelamatkan lebih banyak orang) ketika memproses skenario dengan bahasa kedua, dibandingkan saat menggunakan bahasa ibu. Studi Costa dkk. (2014) melakukan survei:
Skema survei: Peserta diberikan skenario trolley dilemma versi jembatan penyeberangan (footbridge). Sebuah kereta yang melaju akan menabrak dan membunuh lima orang. Satu-satunya cara menghentikannya adalah mendorong seorang pria bertubuh besar dari atas jembatan ke rel. Tindakan ini akan mengorbankan pria tersebut, namun menyelamatkan lima orang tadi. Karena membayangkan mendorong seseorang secara fisik terasa sangat berat secara emosional, banyak orang biasanya menghindari pilihan ini.
Data peserta: Survei ini menganalisis 725 peserta—397 penutur asli Spanyol (berbahasa asing Inggris) dan 328 penutur asli Inggris (berbahasa asing Spanyol).
Hasil: Saat mengambil keputusan dengan bahasa ibu, kurang dari 20% peserta yang sanggup memilih keputusan utilitarian (mendorong pria tersebut). Namun, saat skenario yang sama diproses menggunakan bahasa asing, angka tersebut melonjak drastis hingga lebih dari 40% peserta memilih mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan lima orang.
Referensi
Gibson, T. (2017). Class 12: The Foreign-Language Effect: Thinking in a Foreign Tongue Reduces Decision Biases Lecture notes. MIT OpenCourseWare. https://ocw.mit.edu/courses/9-59j-lab-in-psycholinguistics-spring-2017/6526aafa6c124f893a8b0795bba9a58d_MIT9_59jS17_lec12.pdf